Mengapa Banyak Perusahaan Terjebak di Level Pelaporan Data?
3 mins read

Mengapa Banyak Perusahaan Terjebak di Level Pelaporan Data?

Di era transformasi digital, hampir semua perusahaan mengklaim sudah “data-driven”. Dashboard tersedia, laporan rutin dikirim, dan angka-angka terus diperbarui setiap minggu atau bulan. Namun, kenyataannya, banyak organisasi masih terjebak di satu tahap awal yaitu pelaporan data. Data hanya menjadi laporan, bukan dasar pengambilan keputusan strategis.

Fenomena ini bukan sekadar masalah teknologi, melainkan persoalan budaya, kapabilitas, dan cara pandang terhadap data itu sendiri.

Apa yang Dimaksud Level Pelaporan Data?

Level pelaporan data (data reporting) adalah tahap ketika perusahaan fokus pada apa yang terjadi, bukan mengapa itu terjadi atau apa yang harus dilakukan selanjutnya. Outputnya berupa tabel, grafik, atau dashboard yang menjelaskan performa masa lalu seperti penjualan bulanan, traffic website, atau jumlah transaksi.

Pada tahap ini, data berfungsi sebagai alat dokumentasi, bukan alat prediksi atau pengambilan keputusan. Laporan dibuat secara rutin, tetapi jarang ditindaklanjuti dengan analisis mendalam.

Baca Juga: Metrik yang Masih Relevan di Tahun 2026

Penyebab Utama Perusahaan Terjebak di Tahap Ini

1. Budaya organisasi yang masih berorientasi laporan
Banyak perusahaan menganggap laporan sebagai “produk akhir”. Selama dashboard rapi dan angka tersedia, pekerjaan dianggap selesai. Padahal, nilai data justru muncul setelah interpretasi dan aksi.

2. Kurangnya literasi data di level manajemen
Menurut kajian dari Harvard Business Review, salah satu hambatan terbesar pemanfaatan data adalah rendahnya pemahaman eksekutif terhadap analitik. Ketika pimpinan hanya meminta laporan, tim pun berhenti di sana.

3. Fragmentasi data antar departemen
Data pemasaran, operasional, dan keuangan sering berada di sistem berbeda. Tanpa integrasi, laporan hanya bersifat parsial dan sulit ditarik menjadi insight strategis lintas fungsi.

4. Fokus pada tools, bukan pertanyaan bisnis
Banyak perusahaan berinvestasi besar pada dashboard dan software BI, tetapi tidak memulai dari pertanyaan bisnis yang tepat. Akibatnya, laporan terlihat canggih namun tidak relevan untuk keputusan nyata.

5. Keterbatasan talenta analitik
Pelaporan bisa dikerjakan oleh sistem otomatis, tetapi analisis membutuhkan SDM dengan kemampuan statistik, logika bisnis, dan storytelling data. Studi dari McKinsey & Company menunjukkan kekurangan talenta data masih menjadi tantangan global.

Dampak Jika Terus Terjebak di Level Pelaporan

Perusahaan yang berhenti di tahap reporting berisiko mengalami decision lag keputusan terlambat karena hanya bereaksi pada data masa lalu. Selain itu, peluang optimasi, efisiensi biaya, dan inovasi sering terlewat karena data tidak diolah menjadi insight prediktif atau preskriptif.

Dalam jangka panjang, organisasi seperti ini kalah bersaing dengan perusahaan yang sudah memanfaatkan analitik lanjutan dan AI.

Cara Naik ke Level Analitik dan Insight

Langkah pertama adalah menggeser mindset dari “laporan apa yang kita punya?” menjadi “keputusan apa yang ingin kita ambil?”. Data harus mengikuti kebutuhan bisnis, bukan sebaliknya.

Kedua, perusahaan perlu meningkatkan literasi data lintas level terutama manajemen. Ketika pimpinan mulai bertanya “mengapa” dan “apa berikutnya”, budaya analitik akan terbentuk secara alami.

Ketiga, integrasi data dan kolaborasi antar tim menjadi kunci. Insight yang kuat hampir selalu berasal dari kombinasi berbagai sumber data.

Baca Juga: Cara Production House Membaca Data Minat Penonton Film: Study Case Imajinari

Kesimpulan

Terjebak di level pelaporan data adalah kondisi umum, tetapi bukan tak terhindarkan. Dengan perubahan budaya, peningkatan kapabilitas, dan fokus pada keputusan bisnis, data dapat berkembang dari sekadar laporan menjadi aset strategis yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *